Tersebutlah sebuah kisah di suatu desa yang tentram dan damai lahirlah seorang anak laki-laki kecil mungil yang berkulit butih bersih, Peri Ferdinal namanya. Satu bulan setelah Peri Ferdinal lahir, di desa yang masih bertetanggaan dengan desa tersebut, lahir pula seorang anak laki-laki kurus karena kekurangan gizi, yaitu aku sendiri.
Desa tempat Peri kecil lahir adalah desa yang sangat indah karena desa tersebut dikelilingi oleh perbukitan pada sisi Barat, Utara & Timur serta dibatasi oleh sebuah aliran sungai disisi Selatan yang airnya bersih dan bening yaitu Batang Sinamar. Ditengah-tengah desa tersebut juga mengalir sungai yang lebih kecil yang dikenal sebagai Batang Sauik sesuai dengan nama desa tersebut. Luas desa Sauik mungkin hanya 1/10 dari luas desaku, Kampuang Dalam.
Kalu kita berdiri di punggung bukit sebelah Timur yaitu punggung bukit Andiang dan menghadap ke Barat maka kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Diantara bukit Sauik di Barat yang runcing seperti segitiga sama sisi dan bukit Andiang yang melingkar dari Timur sampai ke Utara kita akan melihat air jatuh dari ketinggian lebih kurang 40 meter terhempas pada batu batu besar yang terdapat di dasar tebing. Dari air terjun tersebutlah batang Sauik memulai perjalanan melintasi desa berkelok-kelok yang akhirnya bermuara pada Batang Sinamar di perbatasan desa.
Dari air batang Sauik tersebut masyarakat Sauik menggantungkan hasil sawah mereka yang hampir menutupi seluruh wilayah desa bahkan dibuat berjenjang-jenjang menjalar sampai ke kaki bukit seperti sawah di Ubud Bali. Rumah penduduk tersebar disudut-sudut desa yang berkelompok-kelompok dua sampai lima rumah yang setiap kelompok rumah mempunyai jalan ke kantor desa dan mesjid sebagai pusat desa tepat di jantung desa.
Pemandangan akan semakin indah pada pagi hari disaat padi mulai menguning karena seluruh desa dan air terjun akan disinari Matahari secara utuh, dan saat masyarakat mulai memasang urang-urang dan bendera dari kain-kain perca serta kantong asoi yang dikatkan pada tali sekeliling sawah digoyang-goyang sambil bersorak-sorak mengusir ratusan burung pipik pinang yang memakan padi bergerombolan pindah-pindah dari tumpak yang satu ke tumpak yang lainnya.
Jalan masuk utama ke Sauik adalah sebuah jembatan gantung layaknya golden gate namun hanya terbuat dari batang pohon kelapa, kawat baja & bambu yang hanya mampu melayani sepeda motor, kereta unto, dan garabak kayu , tidak cukup lebar dan kuat melayani mobil meskipun hanya Suzuki Karimun, Hyundai Atoz ataupun Daihatsu Ceria. Jembatan barayun ini semakin mempercantik desa Sauik dan seolah olah memberi isyarat betapa bersahajanya kehidupan masyarakat disana.
Di desa yang indah, tentram dan damai inilah Peri kecil tumbuh bahagia bersama Opak & Omak dan seorang Uni . Sebenarnaya kelurga Peri adalah keluarga besar namun yang “tersisa” di rumah hanyalah mereka berempat saja, karena Uda & Uni yang lain sebagian sudah berkeluarga dan merantau tersebar keberbagai penjuru negeri.

Sampailah pada suatu masa dimana si Peri kacil sudah waktunya untuk masuk sekolah.
“Oi, jagolah lai, iyo ko sokola juo ang ndak ?”
kata Omak membangunkan anaknya yang tersayang yang masih tertidur lelap karena penat main sikoja kemaren bersama teman sebaya di pembatang sawah.
Namun karena minat Peri kecil untuk sekolah sangat besar, ia langsung duduk dari tempat tidur, dengan sedikit masih agak pusing, Peri kecil melirik ke kursi disamping tempat tidur yang diatasnya terlipat dengan rapi pakaian seragam sekolah merah putih baru lengkap dengan topi dan dasinya. Melihat seragam sekolah yang baru dibeli hari Kamis kemaren di pasar Pokan Komih tersebut Peri kecil sudah tidak sabar untuk segera masuk sekolah. Sambil menggosok-gosok matanya Peri berjalan sempoyongan mengambil handuk untuk pergi mandi ke luak dibawah tobiang.
Setelah mandi dan sarapan pagi, Peri kecil tampak sangat rapi dengan seragam barunya , rambutnya yang kasar-kasar bagaikan ijuak dari batang Onou tersebut seperti dipaksakan disisir sigo topi meskipun sudah dibantu dengan minyak rambut merek Tancho punya Opak, tetap saja rambut Peri kecil masih togak-togak. Peri kecil tidak peduli dengan rambutnya itu, yang terbayang baginya hanyalah segera berkumpul dengan teman-teman sebaya di sekolah SD Impres Saut yang baru saja selesai dibangun.
SD Impress 73 tersebut adalah buah jerih payah masyarakat Sauik yang sudah sekian kali Pemilu sangat setia memenagkan partai berlambang beringin tersebut dengan cara meyakinkan. Menang mutlak hampir 100 % berturut-turut selama tiga kali pemilu terakhir.
Sebelum SD Impres dibangun di desa Sauik, masyarakat Sauik sebagian besar menyekolahkan anaknya di sekolah dasar SD no 3 Limbanang yang berada di desa ku yang berjarak kira-kira 3 km, tapi sekarang dengan penuh suka cita masyarakat Sauik mengantarkan anak-anak mereka dengan bangga ke sekolah SD Impres di desa mereka sendiri.
Tidak mau ketinggalan dari para orang tua yang lain, pada pagi hari Senin awal permulaan sekolah dibuka tersebut, Omak Peri juga mengantar Peri kecil mendaftar dengan perasaan senang dan bahagia. Sang Omak sangat berharap putra bungsunya ini juga bisa sukses dalam pendidikan seperti kakak-kakanya yang semuanya memang berprestasi bagus.
Setiap anak yang akan mendaftar sebagi murid pertama di SD Inpress ini terlihat sangat sumringah senyum dan tawa tak lepas mereka pertontonkan. Kebanyakan mereka diantar oleh Omak mereka sendiri, tapi ada juga yang di antar Etek atau Uni tidak ada yang diantar oleh Opak mereka.
Gedung sekolah tersebut dibangun dikaki bukit Sauik sehingga untuk mencapi gedung sekolah harus melalui perjuangan fisik dengan mendaki jalan tanah menanjak kemiringan hampir 45 derjat sepanjang sekitar 100 m.
Sesampainya di sekolah, sang Omak yang masih mengatur nafasnya sehabis mendaki tadi langsung menemui kepala sekolah untuk mendaftarkan Peri kecil sebagai murid baru.
”O Ni, iko anak uni ciek lai lah nak sikolah pulo nyo nyeh”
Kebetulan sang kepala sekolah pertama di SD Impres 73 tersebut adalah guru senior yang sudah dikenal lama oleh Omak Peri dan umur mereka berdua sebenarnya tidak beda jauh.
”Ha ?, soketek iko lah ko sikolah pulo ?”
Ibu kepala sekolah sedikit agak ragu untuk menirima Peri kecil sebagai murid baru karena melihat body Peri kecil yang memang sangat kecil sekali. Begitu kecilnya Peri kecil, teman-teman sebayanya sering memanggilnya dengan nama Newan.
Newan adalah nama seorang juru foto keliling di kecamatan kami yang memang bertubuh kecil tidak seperti tubuh orang dewasa normalnya. Nama Newan sangat populer di tengah masyarakat karena profesinya tersebut, sebut saja jika mau membuat KTP, anak mau masuk sekolah atau gadih jo bujang yang mau kawin pasti memanggil Newan untuk dibuatkan pas foto hitam putih ukuran 2×3 untuk diserahkan ke kantor KUA.
”Badannyo yo ketek dari dulu lai Ni, tapi umuanyo kan lah cukuik ntuak skolah SD.”
Omak peri mulai meyakinkan kepala sekolah bahwa anaknya ini sudah pantas untuk sekolah, sedangkan Peri kecil hanya tersenyum kecut dan menundukan pandangannya melihat sepatu barunya yang lapang sambil memainkan jari-jarinya dibelakang punggung.
”Cubo jangkau tolingo kida jo tagan suak !”, kata bu kepala sekolah.
Sebenarnya cara test umur seperti ini adalah cara orang-orang dahulu (zaman Belanda) yang tidak tahu tanggal pasti lahirnya. Dengan cara memegang / menjangkau daun telinga kiri dengan tangan kanan melalui atas kepala seorang anak dinyatakan sudah cukup umur dan layak masuk sekolah atau belum.
Ternyata Peri kecil memang belum bisa menjangkau telinganya baik yang kiri dengan tangan kanan atau telinga kanan dengan tangan kiri. Peri kecil mulai cemas dan terus mencoba, tapi memang tangannya yang pendek belum bisa dipaksakan untuk menjangkau telinga.
”Baa caronyo ko, taun bisuak saa lah masuak sikolah di ?” kata bu kepala sekolah tersenyum melihat Peri kecil.
”Tapi umuanyo kan lah cukuik tu Ni, kan samo laianyo jo Wira anak Uni non paliang ketek pulo.”
Jawab Omak membela anaknya yang mulai cemas kalau tidak bisa masuk sekolah tahun ini sama dengan teman-teman yang lain.
Ibu kepala sekolah yang memang kebetulan adalah Ibuku sendiri sebenarnya sudah tahu, dan sebenarnya lagi Ibuku sendiri sangat mengharapkan Peri mau bergabung di SD Impres tersebut sebagai murid pertamanya karena seperti yang saya ceritakan tadi bahwa keluarga Peri adalah keluarga dengan trade record pendidikan yang sangat bagus. Jauh-jauh hari ketika Ibuku diminta untuk pindah menjabat kepala sekolah dari SD no 3 Limbanang di desaku ke SD Impres 73 di Sauik, Ibuku sudah ”mengincar” Peri kecil untuk menjadi muridnya, jangan sampai Peri kecil sekolah di SD 3 Limbanang atau SD Teladan di Suliki.
Namun Ibuku sang kepala sekolah hanya ingin tahu seberapa pintar Peri kecil mugil ini.
”Kalau bitu, Ibuk tes lah dulu agak ciek dih ?”
”Kalau bisa monjawab pertanyaan Ibuk berarti lulus masuak sikolah !”
Peri kecil yang tadi layuh sekarang mulai semangat lagi, dengan sangat serius Peri Kecil mendengarkan pertanyaan dari kepala sekolah
”Pertanyaanyo dongeaan elok-elok muah”
”Kambiang ado duo, bora banyak kakinyo ??”
Hanya berfikir satu detik Peri kecil langsung menjawab dengan pasti
”8”
Dalam hati Peri kecil berkata ”ha, pertanyaan gampang” mungkin keseharian Peri kecil memang sudah akrab dengan ternak Kambiang, Bantiang, Itiak dll..
Dan kepala sekolah pun menyatakan Peri kecil lulus test masuk sekolah.
Sepertinya hari itu adalah hari yang sangat istimewa bagi Peri dan teman-teman dan juga masyarakat Sauik pada umumnya. Karena selama enam bulan terakhir sejak gedung skolah mulai dibangun Peri kecil dan teman-teman sudah ramai membicarakan dan membayangkan mereka akan bersekolah disana sebagai murid pertama, ada juga temannya yang kebetulan tidak naik kelas di SD 3 Limbananag lansung masuk lagi dan bahkan ada yang sudah dinyatakan naik kelas dua tapi tetap masuk lagi sebagai murid kelas satu asal bisa sekolah di desa sendiri besama teman-teman yang lain.
Pada tahun itu tercata murid baru SD Impres 73 sebanyak 17 orang, suatu angka yang cukub besar mengingat desa Sauik yang dihuni hanya beberapa puluh KK. Terbukti benar pada tahun-tahun selanjutnya jumlah murid baru seperti deret bagi dari 17 murid menjadi 10 murid, tahun selanjutnya 5 murid, selanjutnya 2,5 murid dan sekarang entah masih ada atau tidak aku tidak tahu pasti lagi.
Singkat cerita, Peri kecil sekolah di SD Impres 37 selalu menjadi juara kelas dan akupun sekolah di SD 3 Limbanang juga juara kelas. Sering kali kalau aku sudah merasa jenuh belajar dan merasa sudah pintar di rumah selalu diingatkan ibuku kalau muridnya yang bernama Peri lebih pintar dari aku, tentu saja maksudnya agar aku termotifasi lagi untuk belajar lebih giat. Contohnya Ibuku pernah mengatakan :
”Dek Peri saa lah apa kali-kali 9, dek ang olun juo lai ?”
”Peri lah apa bacaan jenazah, dek ang bacaan tahyat akhir tobalik-baliak juo ru”
”Peri lah bisa moncari akar bilangan ang olun juo mongoroti”
Meskipun kami (Aku dan Peri) tidak satu sekolah dan juga tidak satu tempat bermain namun kami sudah saling mengenal dengan perantara Ibuku atau kakakku yang juga seangkatan dengan kakaknya Peri. Ibuku juga pernah mengundang Peri dan murdinya yang lain untuk belajar bersama dirumahku.
Disaat masuk SMP kami mulai ”berkompetisi” didalam kelas, karena kebetulan kami terkumpul didalam kelas yang sama yaitu kelas I-2 SMP Limbanang, awalnya aku memang peringkat 2 dikelas namuan akhirnya naik menjadi peringkat 3. Peri sendiri dari peringkat 3 menjadi nomor 2, lalu juaranya ??
Juaranya adalah teman putri kami yang sangat rajin dan pintar tentunya, dia adalah Meriwati dari Banjaloweh yang disaat SMA ternyata kami berkumpul lagi di kelas yang sama yaitu jurusan Fisika SMA 2 Payaumbuh.
Semasa sekolah di SMA sangat banyak kisah menarik yang kami jalani bersama, tidak hanya antara kami berdua tapi juga dengan semua teman-teman yang berjumlah 24 orang.
Karena Kelas Fisika adalah kumpulan siswa-siswa yang kemampuannya diatas rata-rata semua, maka nilai kami tidaklah terlihat istimewa dibandingkan dengan teman yang lain. Atau mungkin juga saat itu kami tidak terlalu focus belajar karena sibuk mencari jatidiri layaknya anak yang baru gede. Aku sangat semangat ikut klub bola volly dikampungku, Peri pun sangat aktif di perkumpulan main koa didesanya.
Kali ini cerita masa SMA tidak kita kupas, kita melompat ke saat awal-awal kami kuliah. Saat-saat yang akan selalu kami kenang bagaimana serunya kami ”berkompetisi”.
Sadar dengan kondisi kami yang sudah tertinggal jauh dari teman-teman yang sudah mendapat undangan dari Universitas Andalas, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro dll. Maka kami, bukan hanya aku dan Peri saja tetapi juga Dedi Iswandi, Karma Yudha, Wenesdi, Afrinal dll yang dinyatakan tidak layak diundang perguruan tinggi mulai belajar dengan lebih giat lagi dan juga ikut bimbingan belajar untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi yang sangat sulit dan harus bersaing dengan ratusan ribu siswa lain dari seluruh Indonesia.
Alhamdulillah akhirnya aku diterima di Fakultas Teknik Universitas Andalas, Peri pun seperti tidak mau ketinggalan juga diterima di Universitas dan Fakultas yang sama tetapi dengan jurusan berbeda.
Karena kampus kami sama, kamipun tinggal di kos-kosan yang sama di kamar yang sama yaitu di Jl Pinang soro III no 23 Air Tawar Timur kota Padang. Rumah kos-kosan tersebut adalah rumah yang dikontrak oleh daRil bersama istri dan anaknya, tiga kamarnya di lantai atas di-koskan kepada kami, salah satunya juga ditempati teman kami Dedi Iswandi alias Memet alias Krudet bersama daNal.
Layaknya anak kos, kamipun juga mengatur jadwal piket menyapu, cuci piring, masak air dan menanak nasi, sedangkan lauk pauk, sayur dan kerupuk urusan masing-masing. Yang mendapat jadwal piket harus menanak nasi dengan beras sendiri-sendiri, tidak masalah berasnya jenis apa dan berapa orang yang harus makan pada hari itu.
Pada suatu hari saat masih diawal-awal kuliah, yaitu hari Minggu dipenghujung bulan, tanggal dan bulannya aku tidak ingat. Pagi itu jam 9 kami sudah bangun dan langsung solat ”subuh”. Ternyata tinggal kami berdua di kos-kosan, yang lain sepertinya ada yang pulang kampung, ikut kegiatan, atau seperti Krudet yang sudah ”dinas” di tempat Fotocopy bos Asin.
Disaat matahari menanjak naik menghantam ubun-ubun siapa saja yang berjalan dimuka bumi terutama di jalanan kota Padang yang sangat terkenal panasnya, kami hanya tidur bermalas-malasan di lantai balkon depan kamar menikmati hari libur setelah enam hari dalam satu minggu selalu ”diteror” senior-senior karena masih harus menjalani proses ospek.
Saat itu tidak terpikir oleh kami untuk refreshing pergi nonton, main bilyard atau sekedar jalan-jalan ke mall karena dari tempat kos ke jalan besar untuk naik bis atau angkot harus ditempuh dengan jalan kaki hampir ½ kilo melawan teriknya matahari, bagi yang coba atau terpaksa harus berjalan pasti dibuat KO. Alasan kedua kami tidak ”keluar” saat itu adalah karena uang dikantong sudah sangat pas-pasan maklum sudah dipenghujung bulan. Mungkin sesungguhnya alasan ini yang paling tepat he he.
Setelah selesai mencuci pakaian 1 minggu, dan Peri telah menyelesaikan tugas piketnya hari itu kami langsung memulai ”kompetisi” main catur duduk lesehan dilantai balkon. Dalam hal main catur kemampuan kami juga berimbang, mungkin Peri sedikit lebih unggul dari aku, tapi hanya sedikit sekali perbedaanya kira-kira 50,1% berbanding 49,9%. Karena berimbang itulah makanya kami yang paling sering main di tempat kosan.
Terkadang Krudet juga coba menantang kami main, tapi untuk soal permainan ini kami bukanlah tandingan Krudet, kemampuan Krudet main catur hanya setingkat dengan Putra adiknya sendiri yang baru bisa membunuh raja yang sudah tinggal sendirian dengan dua buah benteng.
Partai pertama pada hari Minggu itu kami mulai.
Dengan pembukaan Inggris Raya Peri yang memegang bidak putih memulai permainan. Akupun dengan gaya khas jika memegang bidak hitam akan menggunakan pertahanan Sisilia yang sangat kokoh. Jika aku sudah main bertahan seperti itu biasanya Peri mulai frustasi. Akupun dengan sangat hati-hati mulai menyusun sebuah strategi penyerangan dengan sangat matang.
Karena sangat kokohnya pertahanan aku, Peripun tidak berani masuk menyerang karena bisa berakibat fatal, lebih banyak ia menunggu sambil mempesiapakan pertahanan juga. Setelah persiapan penyerangan aku anggap matang maka akupun keluar memulai penyerangan.
Dimulai dengan pergerakan kuda yang memakan bidak fital dipertahanan Peri aku membuka jalan untuk peluncur putih agar bisa masuk tepat dihadapan raja. Memang aku mengorbankan kuda ditukar hanya dengan satu bidak, tapi aku telah menempatkan sebuah perwira tepat dijantung pertahanan Peri yang disokong oleh mentri dan kuda yang satunya lagi.
Menerima serangan seporadis tersebut terlihat Peri mulai shock, ia berpikir sangat keras menghindari serangan tersebut. Setelah mencoba mengelak satu dua langkah akhirnya Peri menyerah mengaku kalah meskipun aku belum menuntaskan serangan. Kami berdua memang sudah tahu apa yang akan terjadi jika permainan diteruskan dengan kekuatan yang sudah tidak berimabang hanya akan membuang-buang waktu. Jika perbedaan kekuatan sudah lebih dari dua perwira maka sudah dapat dipastikan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Partai pertama yang hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam telah aku menangkan dengan cara yang meyakinkan.
Matahari diluar sana semakin menunjukkan kedigdayaannya, suhu udara semakin panas. Seringkali warga Pinang Sori membakar sampah yang menumpuk dilahan-lahan yang masih kosong saat cuaca panas tersebut dan asapnya pun semakin membuat udara tambah panas dan bau.
Kami berdua juga telah buka baju tidak tahan dengan cuaca tersebut dan juga menandakan pertandingan catur kami juga semakin panas.
Sekarang partai kedua dimulai.
Dengan modal kemenangan 1 – 0 ditangan aku mulai bermain lebih santai dan sedikit agresif. Didalam permainan catur bidak putih memang ditempatkan sebagai tim/kekuatan menyerang sedangkan bidak hitam diposisikan sebagai tim yang bertahan. Peri pun dengan cermat memperhatikan pertahanannya.
Karena begitu semangat dan percaya diri yang berlebihan dalam menyerang, akupun kurang memperhatikan pertahanan. Celah ini langsung dimanfaatkan oleh Peri, setelah melayani seranganku satu pukul dua pukul, dan seranganku mulai melemah Peri langsung memanfaatkan kesempatan kecil tersebut dengan membalas seranganku dengan serangan pula.
Aku yang tidak dalam posisi yang siap menerima serangan sedikit kaget. Pilihannya meneruskan serangan atau membenahi pertahanan. Jika seranganku diteruskan maka pertahananku semakin lemah, jika pertahanan yang aku benahi maka serangan akan gagal total dan harus mundur lagi memulai dari awal. Suatu pilihan yang sulit.
Karena sudah punya modal kemenangan 1-0 aku memilih alternatif pertama dengan meneruskan serangan. Kalau dalam pertempuran yang sesungguhnya bisa diumpamakan aku adalah panglima perang yang duduk gagah diatas kuda lengkap dengan pakaian kebesaran mengacungkan pedang sambil berteriak Seraaaang !!! maka bisa dibayangkan perang akan berkecamuk dan akan memakan korban yang sangat banyak, baik dipihak lawan maupun dari pihak kita sendiri.
Benar saja, Peri tidak terlalu mengindahkan serangan aku, tapi ia juga mengobarkan semangat menyerang. Saling memakan bidak dan perwira kami jalani dalam waktu yang singkat. Aku kehilangan 3 perwira yaitu satu benteng, satu kuda satu peluncur dan dua buah bidak, dari pihak Peri juga kehilangan 3 perwira yaitu dua benteng satu peluncur dan tiga bidak.
Setelah pertempuran yang sangat dasyat tersebut kami sama-sama mundur dulu untuk memperbaiki pertahanan masing-masing, suasana yang tadi sangat tegang kini mulai agak kendur dan kami sama-sama cari “angin” dulu.
Asap dari pembakaran sampah tetangga kadang-kadang tertiup angin ke arah kami, kami hanya bisa pasrah menerima kondisi cuaca panas, perihnya asap atau bau yang tidak mengenakkan tersebut. Tapi kali ini bau yang tidak enak tersebut kadang berganti dengan bau harum gurih seperti aroma pop corn.
”Ha, baa dek beda baunyo sekali ko”
kata Peri agak heran.
”Iyo yiah, agak orun stek”
jawabku santai sambil tetap serius memperhatikan papan catur
”Baun ubi panggang”
kata Peri semakin penasaran
”Iyo baun ubi panggang”
kataku lagi menimpali sambil memulai penyerangan lagi.
Karena papan catur mulai sepi dari bidak dan perwira sejak pertempuran tadi maka serangan semakin berfariasi, serangan bisa dilakukan dari berbagai penjuru. Permainan saling serang mulai kami jalani lagi.
Akhirnya Peri menempatkan mentrinya tepat dihadapan mentriku, maksudnya mengajak duel saling tukar/mengorbankan mentri masing-masing. Menghadapi posisi begitu uku mulai tidak enak dan gelisah, karena dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aku sedikit kesulitan melakukan penyerangan jika harus kehilangan mentri. Kelemahan aku ini sangat dipahami oleh Peri, bagi ia kehilangan mentri tidak terlalu masalah asal jangan kehilangan kedua kudanya.
Pilihan ini sangat sulit, namun seperti biasa aku selalu menyerah untuk tidak mau mengorbankan mentriku. Bagi Peri sendiri tidak masalah mentrinya diganti dengan satu kuda dan satu benteng punyaku.
Sudah hampir dua jam kami menjalani partai kedua ini, namun pertandingan masih berjalan seru. Bau aroma ubi bakar kembali tercium semakin keras.
”Ha, sia pulo manggang ubi siang-siang ko”
kata peri semakin penasaran.
”Iyo, smakin kore baunnyo, ndak tau nyo awak litak siang-siang ko”
Jawab aku lagi yang mulai terdesak.
Sekarang kondisi sudah berbalik, aku dalam kondisi mulai tertekan Peri mulai santai. Peri yakin kali ini ia akan menang. Tidak berlebihan memang, karena dari pengalaman sebelum-sebelumnya jika sudah main barabih bulu seperti itu ia lebih unggul dari aku. Akupun menyadarinya dan kali ini aku tidak mau kalah untuk kesekian kalinya dalam kondisi yang sama. Aku terus berusaha bertahan sambil mencuri-curi serangan sekali-sekali.
Peri melayaniku dengan sabar, baginya skor 1-1 hanya menuggu waktu saja. Sambil bersandar dipagar balkon dan menggoyang-goyangkan betisnya ia terlihat santai sekali. Waktu itu Peri mengenakkan celana pendek sambil buka baju. Sebenarnya bukan celana pendek yang ia kenakkan tetapi celana levis yang sudah pudar dipotong pendek setinggi lutut kaki.
Betisnya yang besar dan berbulu lebat itu seolah olah menerorku supaya cepat menyerah. Atau sesekali Peri coba mempengaruhi aku dengan kata-kata sindiran
”ndo lai lah tosopik Kacang cako”
katanya sambil melengah-lengah.
Namun aku tidak mau menyerah, coba tidak terpengaruh dengan kata-katanya. Dengan tidur terlungkup tangan didada kepala diangkat aku semakin serius memperhatikan papan catur. Sekarang Peri mulai memainkan rokok Gudang Garam GP yang dari tadi diselipkan ditelinganya, rokok tersebut dipukul pukul ke lutut atau dihisap-hisap tampa menyalakannya seolah olah mengisyaratkan kalau aku sudah menyerah ia kan segera menghisap rokok tersebut untuk merayakan kemenangannya.
Hampir tiga jam lebih kami memainkan partai kedua ini, Peripun melayaniku dengan sabar, sampai akhirnya aku benar-benar sudah terdesak dan menyerah. Sambil membalikkan badanku langsung tidur terlentang dan mengibas-ngibaskan kaosku karena panas.
”yolah, nyorah, 1-1 skor ru”
Kataku sambil menguap.
”Ha ha, koditoruikan ciek lai baa ??”
Kata Peri merasa menang dan langsung menantangku untuk memlanjutkan partai ke tiga.
Benar saja seperti yang saya prediksi, Peri langsung menyalakan rokok Gudang Garam merayakan kemenangannya. Terlihat jelas Peri menikmati hisapan pertamanya yang dihirup dalam-dalam.
Tapi… belum sempat Peri menghebuskan asap rokok dari hisapan pertama tersebut tiba-tiba dari arah dapur lantai bawah terdengar suara ni Mi istrinya daRil yang baru pulang dari pengajian berteriak sangat lantang sekali.
”PERIIII !!,”
”PERI BATANAK YOOO ???????”
Peri langsung terperanjat kaget seperti baru saja dihardik oleh senior angkatan 90. Seperti dikejar anjing gila Peri berlari kebawah menuju dapur. Dapur kami memang sama-sama dilantai dasar bersebelahan dengan dapurnya ni Mi.
Kami baru sadar bahwa aroma ubi bakar yang tercium saat main tadi adalah bau nasi hangus yang ditanak oleh Peri 4 jam yang lalu sebelum kami memulai partai pertama.
Aku hanya tertawa geli mendengan Peri bercirotet mengeluh didapur menjawab pertanyaan ni Mi.
”Lah anguih yo ?”
Tanya ni Mi.
”Iyo, lah lupo saa awak ni”
Jawab Peri.
”Lah bara lamo tu, kareh bana baunyo ?”
Tanya ni Mi lagi.
”dari jam 10 pagi tadi lai ni”
Jawab Peri senyum-senyum malu.
Peri berjalan lesu menaiki tangga sambil menenteng periuk nasi yang masih panas. Periuk besi dengan tangkai kawat itu dipegang dengan singlet bekas merek Swan no 36 yang sudah berwarna hitam sama dengan “ekor” periuk itu.
Sambil garuk-garuk kepala dengan raut wajah hampir mau menangis Peri menyodorkan periuk tersebut ke arah aku. Aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku, sambil duduk diatas kursi rotan reot di ruangan tengah aku coba bertanya sambil tertawa tentunya.
”Baa, lah anguih ??”
Tanyaku.
”Ndo lai, lah jadi korak kosadonyo”
Jawab Peri mulai memaksakan senyum.
Lazimnya orang menanak nasi, bagian yang menjadi kerak biasanya hanyalah lapisan paling bawah setebal ½ – 1 cm. Tapi kali ini Peri menanak nasi dengan kerak setebal 20 cm. Tidak ada lagi terlihat nasi berwarna putih dalam periuk itu, semuanya sudah berwarna hitam.
Akhirnya kami berdua menertawakan diri kami sendiri yang tidak pernah sadar aroma ubi bakar tadi berasal dari dapur kami sendiri.
Bagi Peri, hal ini merupakan bencana yang besar, kelihatannya memang hanya spele, tapi mengingat beras yang ditanak tadi adalah stok terakhir, berarti ia harus beli beras lagi, harus beli minyak tanah lagi. Sedangkan uang disaku benar-benar sudah tipis.
Kiriman uang dari uni dari jakarta baru akan ditransfer tanggal 1 bulan depan yang masih beberapa hari lagi. Mau mengambil uang melalui ATM juga tidak bisa lagi, karena tabungan yang tersisa tinggal Rp 17.000,- sedangkan pecahan terkecil di ATM adalah Rp. 20.000,- mau mengambil lewat teller ke bank juga malu.
Mau tidak mau untuk beli beras dan minyak tanah harus diambil dari anggaran Gudang Garam GP. Tidak bisa merokok sesudah makan merupakan bencana bagi seorang perokok.
Aku sendiri tidak mau tahu dengan ”penderitaan” Peri saat itu, aku hanya terus tertawa senang seolah-olah skor main catur yang masih 1-1 tadi telah berubah menjadi 2-1.
_________________________________________Tamat________________________________
Pada hari ini, Kamis 24 April 2008 saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Bapak Peri Ferdinal. Semoga sehat, sukses dan bahagia selalu.
Wasalam, Wira/Kacang