Feeds:
Posts
Comments

Happy New Year

Telat nggak siiih kalo baru sekarang ngucapin selamat tahun baru???  Tapi setelah dipikir-pikir nggak telat juga, soalnya tahun baru khan baru dua minggu lagi.  Naah lho kok….maksudnya tahun baru China!

Pokoknya Selamat Tahun baru deh buat semua, semoga di tahun 2009 semua cita-cita and impian kita-kita bisa terwujud.  Bagi yang belum nemuin tulang rusuknya yang hilang, usahanya di giatkan lagi..biar tuuh tulang rusuk bisa dipasang pada tempatnya.  Bagi Bapak2 n Ibu2 yang belum dikasih amanah untuk menyalurkan kasih sayangnya buat si junior, sabar aja tapi jangan lupa untuk terus mencoba 

dsc_48342

 Ucapan spesial buat Dedi yang udah menemukan “ikan mas” idamannya.  Selamat memasuki babak baru di era krisis global (nggak nyambung), semoga menjadi keluarga yang tangguh, di berkati and dirahmati.

Pulang rayo 1429 H

Alhamdulillah, ari rayo potangko awak jadi pulang rayo ka Ampang Godang. Ondeh nagori awak ko rasonyo makin longang ajo, rasonyo lobiah longang dari maso ketek-ketek dulu. Tapi dek sodang rayo lai rami juo jadinyo, apolai jaringan untuak nelpon, rami bona sampai-sampai beberapo ari setelah rayo susah nelpon kama-ma dek jaringan sibuk. Indak jaringan ajo nan sibuk, awakpun sibuk dek ado acara syukuran nikahan adiak di rumah, jadilah ndak sompat bona jalan-jalan do, moof untuak kawan-kawan sadonyo dek ndak sompat jalan. Namun lumayanlah, awak lai sobok jo Iwen nan samakin gopuak, Deni nan ka pindah ka Jakarta, Dedi nan kabarolek, Kirul nan marantau ka Riau, Didi nan sodang asyik2nyo manalepon tongah malam :D

Di bawah ko ado beberapo foto hasia pulang kampuang potang, mudah-mudahan jadi paubek untuak kawan-kawan ndak ndak sompat pulang.

Barompek, dari kiri ka kanan: Kirul, Dedi, Yudha, Didi. Sayang bona pas sobok jo Iwen dan Deni awak lupo maambiak gambarnyo.

Ndeh, yo mantap bona sate Donguang-Donguang ko slurrrp… Ah…. Konyang :D

Supayo makin ngiler wak pampangan foto sate tu sakali lai… :D

Sakali lai he…he…he…he…he…

Tapi salomak-lomaknyo sate akhirnyo berakhir di kurungan juo (WC), hi…hi…hi…hi…hi… Untuak nan lah lamo ndak nongkrong di siko awak masuakan foto kurungan sebagai kenangan maso nongkrong di situ dulunyo :D

Ko foto baruah di Ampang Godang, kiro-kiro mode ikolah tipikal baruah di daerah awak, ado tobek, batang karambia, sawah dan tontu sajo kurungan :) Dulu banyak Langgar/Surau (longgea), tapi kinilah banyak nan runtuah ndak tarawat.

Masjid baruah Ampang Godang. Kini kondisinyo lah yo bona parah, banyak kayu-kayunyo nan lah lapuak. Sejak sekitar awal tahun 1980-an masjid iko ndak dipakai ulai kecuali untuak kegitan MDA.

Sebagai gonti masjid baruah nan lah tuo, dibangunlah Masjid Al-Ihsan.

Sbolun ka Pokanbaru sompat bronti di tompek kodai nan  manjua sanjai di daerah sbolun Lubuak Bongku. Sayang langiknyo ndak berwarna biru.

Dek ndak sompat mambaokan sate donguang-donguang, sanjai, galamai rondang, rubik ganepo, kue sopik, karupuak tunjang, ajik atau rondang anggaplah foto2 di ateh sabagai panggontinyo :)

Salam

Yudha

Sate Dangung Dangung

Setiap lebaran tiba, sate dangung-dangung adalah makanan yang selalu dicari oleh perantau yang mudik ke Sumbar (Minang), teruama yang pulang ke Payakumbuh Kab 50 Kota. Libur mudik seakan belum terasa sempurna kalau belum makan makanan tradisional yang satu ini.

Bagi pemuja “sate padang”, sate dangung-dangung adalah cita rasa nomor wahid disamping sate mak syukur di Padang panjang, kalu menurut saya masing-masing ada kelebihan tersendiri yaitu : Sate mak syukur lebih enak di rasa dagingnya, sedangkan sate dangung-dangung lebih ungul pada rasa kuahnya, namun kedua-duanya jauh lebih nikmat dari sate padang asli atau sate pariaman apalagi dibandingkan dengan sate ayam, sate kambing madura, dll. Tapi… ini masalah selera, setiap orang bisa berpendapat berbeda, pasti.

Yang menarik dari fenomena sate dangung-dangung ini adalah kekuatan nostalgianya, setiap ada acara temu kangen dengan kawan2 lama, atau teman satu angkatan selalu menjadwalkan pertemuan makan sate dangung-dangung secara beramai-ramai langsung di tempatnya di pasar Dangung dangung sekitar 15 km Utara kota Payakumbuh dan +/- 5 km sebelum pasar Limbanang.

Diantara warung sate dangung dangung yang terkenal adalah Sate Malin, Sate Win & Sate Rivai, ketiganya punya cirikhas yang berbeda beda.

Saat musim mudik lebaran seperti sekarang, warung-warung tersebut selalu dipenuhi pengunjung yang duduk berkelompok saling bercengkrama yang menunjukkan mereka itu adalah teman-teman lama yang sedang berkumpul.

Bagi anda-anda yang lebaran sekarang mudik ke Payakumbuh dan sekitarnya saya ucapkan selamat menikmati sate dangung dangung nyam…nyam..

Domino

Saya yakin kita semua sudah sering mendengar/membaca istilah effect domino, dan juga sudah paham maksudnya. Namun bagi yang belum paham kira-kira maksudnya begini :

Effect domino adalah istilah untuk menggambarkan akibat dari suatu hal (peristiwa, kejadian, dll) yang memicu terjadinya hal lain secara beturut-turut. Contohnya, begitu harga BBM naik semua harga-harga ikut naik

Istilah ini tidak lepas dari kata domino itu sendiri yaitu jenis/alat permainan yang terbuat dari balok-balok kecil yang disatu sisinya ada dua symbol titik-titik. Satu ujung balok domino akan dipasangkan dengan balok yang lain dengan symbol/titik yang sama, begitu seterusnya sampai membentuk rangkaian balok dengan symbol titik-titik yang saling menyambung.

Dalam permainan domino yang umum, jumlah pemainya adalah empat orang, siapa yang paling cepat menhabiskan jatah kartu/balok/batu domino dialah pemenangnya.

Permainan domino ini hampir sama dengan permainan gaple, perbedaan yang mencolok adalah dari jenis bahan baloknya, pada permainan gaple menggunakan kartu/kertas tebal sedangkan pada permainan domino menggunakan balok dari bahan acrylic yang keras dan tebal.

Perbedaan lainnya adalah system dan trik permainannya, permainan gaple biasanya dimainkan secara individual sedangkan dalam permainan domino sering kali dimainkan secara berpasang-pasangan.

Dilingkungan masyarakat Sumbar (Minang) permainan ini sangat digemari, permainan ini adalah permainan wajib disetiap warung kopi. Sebagian besar laki-laki minang bisa memainkan permainan ini dengan baik. Namun sayangnya ada saja yang menjadikan permainan ini menjadi ajang perjudian sehingga citra permainan ini menjadi jelek. Tapi sebenarnya permainan ini baik untuk melatih ingatan, berhitung, membaca peluang (probabilitas), menyusun strategi, kerjasama tim dll.

Tempat yang paling asyik memainkan permainan ini adalah di warung kopi pada malam hari, karena bisa main sambil minum & makan (jajanan warung) serta ditonton oleh orang/teman yang lain yang memberi semangat atau saling bercanda sebagai ajang sosialisasi dilingkungan masyarakat.

Tidaklah heran kalau melihat anak lelaki di Sumbar setingkat SMP pun sudah mahir memainkan permainan ini. Tapi biasanya di warung kopi (umumnya di desa-desa) bagi anak setingkat SMP hanya bisa main pada siang hari sedangkan untuk main pada malam hari belum mendapat izin karena dianggap masih berstatus anak-anak yang belum boleh keluyuran pada malam hari

Beda kalau anak lakai-laki tersebut sudah duduk di bangku SMA, mereka seolah-olah sudah mendapat “SIM” untuk main di warung pada malam hari. Karena merasa mendapat legitimasi tersebut banyak juga yang malah ketagihan keluyuran dan jadi lalai belajar.

Begitu favorite dan mengasyikannya permainan ini bagi anak setingkat SMA, selalu saja dilingkungan dekat dengan sekolah ada tempat berkumpul untuk main domino bersama teman teman. Bagi siswa yang menyandang status “madea” nongkrong dan main diwarung ini tidak hanya di saat jam istirahat, tapi bisa kapan saja tergantung permintaan teman-teman lain yang sama-sama bolos belajar (cabut).

Saya juga termasuk penggemar permainan ini, dan berikut adalah pengalaman saya main domino saat masih di SMA dulu :

Saya pernah main di warung belakang sekolah, namun tidaklah terlalu sering, dan juga tidak sampai harus cabut untuk main QQ. Karena kebiasaan dari kami (Pisik95) pada jam istirahat tetap didalam kelas, saya pun punya ide kenapa tidak main domino didalam kelas saja.

Secara iseng saya mulai coba membuat kartu domino dari kulit buku bintang obor isi 100 lbr yang cukup tebal & keras. Buku yang saya jadikan kartu tersebut adalah buku-buku yang ada didalam lemari labor Fisika yang juga kelas kami, kebetulan lemari tersebut berada disamping tempat duduk saya yang berada di pojok paling belakang.

Seperti biasa, ide-ide exstreem ini selalu dapat dukungan dari teman-teman yang lain. Dan akhirnya di kelas kami dimulailah era main domino setelah kuis aksara bermakna sudah lewat masa hangatnya. Disaat jam istirahat kembali akan terdengar suara heboh dari dalam kelas kami.

Pernah disaat jam istirahat sudah habis kami masih saja asyik main berkumpul di pojok belakang dimeja saya, tanpa disadari ternyata bapak Zulnatri guru Geografi kami yang selalu berwajah dingin itu sudah masuk sambil mengisap rokoknya.

Karena kaget melihat pak guru sudah masuk, semua teman-teman buru-buru membubarkan diri kembali ke meja masing-masing meninggalkan karu domino begitu saja di atas meja saya. Otomatis saya menjadi sibuk mengumpulakan kartu tersebut dan memasukkannya kedalam tas.

Melihat saya yang kaget dan sedikit pucat mengumpulkan kartu itu secara buru-buru dan menyembunyikannya di dalam tas, pak Zul langsung mendekati saya dan bertanya:

“Itu, apa tadi yang kamu sembunyikan ?”

“Tidak ada pak.”

“Coba kamu keluarkan apa yang kamu masukkan kedalam tas tadi ??”

“Tidak ada pak.”

“Coba keluarkan tas kamu.”

Dengan jantung berdebar terpaksa saya keluarkan tas, dan pikiran sudah kemana-mana, jangan-jangan nanti disuruk ke kantor atau ke ruangan bapak kepala sekolah, wah gawat …

“Ini pak.”

“Coba buka.”

Saya buka tas pada bagian utamanya, dan isinya memang hanya buku pelajaran.

“Coba bagian yang lain”

Saya buka lagi, dan isinya juga hanya pulpen pensil penggaris dll. Jantung saya semakin berdebar dan berharap tidak ketauan karena saya sembunyikan bagian yang agak tersembunyi.

“Di dalam laci meja kamu apa saja? Coba kamu keluarkan !”

“Tidak ada pak, cuma ini”

Saya mengeluarkan buku TTS hasil kutilan teman-teman dari Mall Pokan Komih kemaren. Tapi beliau belum yakin dan ikut memeriksa meraba-raba kedalam laci meja saya dan hasilnya juga nihil.

Pak Zul semakin penasaran karena tadi dia begitu jelas melihat saya memasukkan kartu domino ke dalam tas. Akhirnya beliau menyita tas saya dan memeriksanya sendiri. Pak Zul mulai mengeluarkan buku-buku saya satu persatu.

Teman yang lain semuanya diam memperhatikan saya, dan saya yakin yang cewek-cewek ikut bersimpati melihat saya yang pucat dan yang cowok-cowok pasti tertawa dalam hati mereka matilah ang konai ang… he he.

Setelah semua buku-buku saya dikeluarkan pak Zul mulai meraba ada kartu domino didalam tas, tapi tidak tahu harus mengeluarkannya dari mana, akhirnya pak Zul monuntuangkan dan mengguncang-guncangkan tas saya diatas meja, sehingga… beserakkanlah kartu domino tersebut diatas meja.

Saya pasrah tidak bisa mengelak lagi serta siap-siap menerima hukuman, tapi untungnya pak Zul ini beda dengan guru-guru yang lain, beliau adalah pribadi yang unik.

Diantara keunikannya adalah tidak pernah tersenyum didepan siswa-siswanya, hanya untuk sekedar menjaga wibawa menjadi seorang guru, bukannya tidak pandai senyum sama sekali karena kadang-kadang kami melihatnya kalau sudah tidak tahan untuk tertawa, pak Zul tersenyum dibalik buku yang ditutupkan ke wajahnya.

Disaat mengajar tetap saja merokok didepan kelas dan kalau sedang mengawas ujian beliau akan berdiri di pintu masuk sambil merokok tapi cukup berbaik hati tidak menghembuskan asap rokoknya kedalam kelas tetapi keluar pintu sambil mengintip intip dari celah pintu.

Setiap ujian dengan beliau selalu ada soal “bonus” yang jawabannya tidaklah terlalu sulit sehingga nilai ujian dengan bapak ini tidak akan jelek-jelek amat, diantara soal bonusnya yang terkenal adalah : Berapa jumlah bintang dilangit ? maka jawabanya adalah sebanyak pasir di pantai.

Dan yang paling unik dari dia adalah kumis & rambutnya yang gondrong. Kami pernah dengar kalau beliau sering ditegur bapak kepala sekolah untuk memotong rambutnya tersebut, namun pak Zulnatri tetap cuek bebek. Akhirnya pak Zulnatri ini lebih terkenal dengan panggilan Pak Slank karena penampilan dan tingkahnya tersebut.

Setelah pak slank ini menemukan yang dia cari, saya disuruh berdiri didepan kelas dan diapun duduk di meja guru sambil menghabiskan rokoknya yang nanggung tadi. Cukup lama saya berdiri menunggu tanpa disuruh/dihukum apa apa.

Pak Slank kalau merokok pasti menghabiskan rokonya tersebut sampai benar-benar habis sampai ke puntungnya, mungkin sayang mubazir, begitu pikirannya. Begitu rokoknya habis, saya hanya disuruh duduk lagi, tanpa berkata apa-apa atau sekedar menasehati juga tidak, pak Slank langsung masuk ke bahan pelajaran hari itu.

Saya benar-benar lega tidak jadi dapat hukuman pada hari itu. Mungkin sampai habis rokoknya tadit pak Slank belum dapat ide saya ini mau diapakan, atau mungkin juga ada hukuman tapi batal diterapkan karena toh juga dia juga “bandel” sama kepsek yang tidak mau merapikan penampilannya.

Atau juga, kesalahan saya dimata pak Slank tidaklah terlalu berat karena tadi itu kami kan hanya main domino biasa di jam istirahat juga tidak pakai judi-judian. Sedangkan beliau sendiri juga penggemar berat permainan ini.

Besoknya disaat jam istirahat bukannya kapok tapi kami malah main lagi bahkan sudah menjadi dua kelompok, tapi begitu jam istirahat habis langsung bubar tidak mau lagi ada yang tertangkap tangan, pokoknya permainan ini semakin seru, bahkan teman-teman cewek pun juga ikut belajar memainakannya.

Permainan ini benar-benar sudah mewabah didalam kelas kami, puncaknya saat mata pelajaran Kimia setelah jam istirahat, ibu Edi guru kimia kami tidak masuk dan tidak ada perintah/pesan dari kantor kami akan diberi tugas atau disuruh belajar ke perpustakaan atau diginti pelajaran yang lain. Kamipun sepakat tidak akan melapor ke kantor dan tetap didalam kelas melanjutkan permainan, asyiik..

Kartu domino kami diproduksi secara massal supaya semua bisa ikut main. Jumlah kami yang 24 orang dibagi 4 orang satu kelompok pas menjadi 6 kelompok. Barisan tempat duduk paling depan dan barisan ke tiga langsung putar arah tempat duduk menghadap kebelakang.

Pintu kelas ditutup rapat-rapat dan kami berusaha tidak berisik, sehingga dari luar terlihat sedang diskusi kelompok saja. Kami benar-benar asyik menikmati permainan tanpa sedikitpun merasa cemas akan kena marah. Mungkin satu satunya yang merasa cemas adalah ketua kelas kami Deni Iqbal, karena bagaimanapun kalau kelas punya masalah pasti pemimpinya yang akan ditanya duluan.

Kelas kami cukup demokratis, kalau mayoritas anggota kelas sudah sepakat maka semuanya harus ikut, ketua kelas tidak bisa memaksakan kehendaknya meskipun nanti dia yang akan diminta pertanggung jawabannya, saya lihat lama-lama ketua kami juga menikmati permainannya.

Kurang lebih satu jam pelajaran sudah kami bermain, kami tidak menyadari Ibu Edi guru Kimia kami itu melihat dan memperhatikan kami saat lewat di jalan/halaman depan sekolah tepat didepan kelas kami yang memang agak jauh dibatasi taman. Beliau heran melihat kami yang sedang “diskusi kelompok” begitu tenang dan tertib.

Ibu Edi masih ragu melihat kami yang tenang apakah ada guru lain yang menggantikannya, karena beliau tahu betul kalau kelas kami lagi tidak ada guru pasti akan berisik. Pernah dulu kami dimaki-maki karena tidak pernah berhenti berisik ketika kelas kami berdekatan dengan perpustakaan. Dan karena sering berisik dan juga karena kekurangan ruangan kelas, kelas kami ditempatkan di Labor Fisika dekat dengan ruangan kepala sekolah.

Ibu Edi mulai mengendap-endap mendekati jendela kami dari arah luar dan memperhatikan kami yang lagi asyik main domino, kami tetap belum sadar dan terus asyik main. Setelah yakin melihat apa yang sedang kami kerjakan beliau benar-benar naik pitam menahan marahnya sampai ke ubun-ubun, mungkin kalau ada yang memecahkan telur ayam di atas kepalanya akan langsung menjadi telur matasapi.

Bangaimana tidak emosi, yang kami kerjakan ternyata bukan belajar, tapi hanya main, yang dimainkan pun bukanlah permainan biasa, tetapi permainan domino yang berimage jelek, yang ikut main semua anggota kelas termasuk cewek-cewek berjilbab, isyu kami main domino dikelas juga sudah sering dibicarakan guru-guru di kantor, sekarang kami main dijam mata pelajaran beliau sendiri, koplit dah…

Ibu Edi tidak lansung menegur kami, beliau hanya menggeser posisi berdirinya menampakkan diri di depan jendela, lalu salah seorang dari kami mulai melihat dan langsung kaget sambil berteriak memberi tahu “IBU EDI !!!”

Kontan saja, mendengan nama ibu Edi disebut kami seolah mendapat perintah :

“BALIK KANAN !! GRAK !!!”
“SIMPAN KARTU DOMINO !!! GRAK!!”
“BUKA BUKU !!! GRAK !!”

Dalam hitungan tiga detik ruangan kelas kami kembali menjadi normal dalam posisi semuanya membaca buku.

Melihat kami sudah dalam posisi siap, Ibu Edi mulai menarik pelatuk senapan otomatisnya,

“TRETETETET…… TRETETETETETETET……”
“TRETETETET…… TRETETETETETETET……”
“TRETETETET…… TRETETETETETETET……”
“TRETETETET…… TRETETETETETETET……”
“TRETETETET…… TRETETETETETETET……”

Semua kami kena peluru tembakan bu Edi, cewek-cewek yang paling banyak kena, termasuk yang diarahkan kepada ketua kelas.

Dasar bandel, kami hanya diam cuek sambil pura-pura baca buku seakan yang berdiri diluar jendela sana adalah burung Murai yang lagi berkicau merdu, bahkan Gusnadi (si Kuntet) yang duduk tepat dibawah jendela dekat ibu Edi berdiri, memalingkan wajahnya ke arah kami sambil senyum-senyum masam.

Tidak puas melepaskan marahnya dari luar jendela, Ibu Edi bergegas memutar kearah kantor menuju ke ruangan kelas kami sambil tetap melepaskan tembakan. Sebagian dari kami juga mulai menutup lubang telinganya dengan kertas mempersiapkan diri medegar marahnya bu Edi, karena kalau sudah marah biasanya tidak bisa sebentar, kalau direkam mungkin bisa penuh satu kaset.

Melihat wajah bu Edi yang merah, kening mengkerut, alis mata menyatu, marah dengan suara yang meledak-ledak, nyali kami ciut juga, kami semua menunduk diam seribu bahasa, kecuali teman kami Lima Sesridha (Riri) yang selalu tidak tahan untuk tidak mejawab, tapi entah apa yang dikatakannya saya tidak dengar begitu jelas.

Sampai habis jam mata pelajaran dan waktunya untuk pulang barulah kami selesai dimarahi dan dinasehati, tidak ada materi pelajaran yang diberikan pada hari itu, mungkin bu Edi benar-benar marah dan tidak bisa konsentrasi untuk mengajar.

Ibu Edi Yusna guru Kimia kami ini memang terkenal temperamen dan ditakuti siswa, tapi keras/ketegasan bu Edi ini benar-benar tipikal orang Sumatra pada umumnya kalau lagi marah benar-benar melepaskan marahnya sampai habis, kalau sudah selesai tidak lagi dibahas atau dendam sampai kenilai.

Buktinya meskipun kami sering dimarahi, tapi dikelas jurusan lain kami juga disanjung dan dibanggakannya karena kami juga bisa mengikuti gaya belajar yang diinginkan beliau dengan serius dan baik.

Kalau kami disuruh diskusi, kami benar-benar diskusi secara aktif dengan bahan / buku yang komplit. Hal itu membuat beliau puas dan senang karena materi yang diajarkannya dapat kami pahami dan mendapat nilai yang bagus-bagus.

Pasca kejadian itu, permainan domino didalam kelas mulai berkurang tapi, ceritanya belum berhenti sampai disitu.

Karena kartu domino kami tidak disita waktu dimarahi dulu, dan hanya diceramahi tanpa ada sangsi jadinya nasehat bu Edi hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Setelah beberapa hari kemudian kami mulai main lagi meski hanya sebentar-sebentar saja.

Lama-lama permainan ini mulai hangat lagi, permainannya juga semakin seru karena teman-teman yang sebelumnya tidak mengerti sekarang mulai paham cara dan trik-trik permainannya.

Kabar kami mulai main lagi di dalam kelas benar-benar sudah membuat guru-guru gerah, kami tidak sadar kalau kami ternyata sudah dipantau dan diincar untuk “ditangkap”.

Akhirnya hari penggrebekan itu datang juga.

Waktu itu masih jam istirahat, kami main dalam dua kelompok, kelompok pertama ada di meja saya di pojok belakang kanan sisi sebelah kiri pintu masuk, kelompok kedua dipojok belakang kiri yang berhadapan diagonal dengan pintu masuk.

Saya ingat di kelompok kedua itu yang main adalah Karma Yudha (Yudath), Zulhendra (Icon), Yasril (Acin) dan satunya lagi kalau tidak salah adalah Elfi Zulhelmi (Emi), sedangkandi kelompok kedua saya sudah lupa main dengan siapa saja.

Lagi asyik main, kami dikejutkan oleh tim penggrebek dari kantor yang masuk secara tiba-tiba. Yang menggrebek kami sebenarnya hanya satu orang guru saja yaitu bapak Zulkifli, meskipun cuma satu orang tapi beliau adalah guru yang cukup ditakuti para siswa karena beliau adalah guru olah raga berbadan tegap yang jago karate.

Tanpa banyak bicara pak Zulkifli langsung menunjuk ke arah kelompok kedua yang berhadapan dengan pintu dan berkata :

Kalian, ko kantua !
Baok kartu kalian tu !

Yudath, Icon Acin & Emi kaget bukan main dan tidak bisa berkutik lagi. Mereka berempat pucat pasi karena ketakutan, yang paling pucat adalah si Acin yang langsung gemetaran sampai-sampai hampir mau pipis didalam celana.

Acin adalah teman kami yang termasuk goglongan siswa yang patuh, berperilku baik, berpakaian rapi dan juga tidak pernah terlambat. Pokoknya ia adalah siswa berperilaku manis yang tidak membeda-bedakan teman dan belum pernah melanggar peraturan sekolah. Namun kali ini ia ketiban sial tertangkap bermain domino didalam kelas bersama Icon yang memang dari dulu sudah diincar-incar bapak Zulkifli karena sering melawan peraturan.

Saya dan teman yang main dikelompok kedua kali ini selamat dari penggrebekan karena pak Zulkifli tidak melihat ke arah kiri dari pintu.

Maka berjalanlah Yudath, Icon, Acin & Emi beriringan ke kantor seperti tahanan reskrim polda Bekasi yang diawasi bapak Zulkifli dengan tatapan yang tidak bersahabat. Seperti biasa kami yang selamat hanya senyum-senyum saja tanpa ikut perihatin, kecuali teman-teman cewek yang kasihan melihat kenapa Acin bisa terlibat mewakili kebandelan kami.

Saya tidak tahu seperti apa guru-guru menginterogasi mereka di kantor karena kami telah melanjutkan mata pelajaran PSPB. Lebih satu jam pelajaran kami telah belajar, tapi mereka berempat belum juga balik kedalam kelas.

Hampir waktunya pulang barulah Yudath, Icon, Acin & Emi masuk kedalam kelas dengan tatapan kosong, muka kusut dan menundukaan kepala. Melihat mereka berjalan masuk kelas seperti tawanan tentara AS yang baru keluar dari tahanan Guantanamo, kami semua jadi ikut prihatin. Timbul rasa simpati kami karena seharusnya bukan mereka berempat saja yang menanggung ulah kami tersebut.

Besoknya kami benar-benar menghancurkan semua kartu domino yang ada dan mencari ide baru apa lagi yang lebih menantang yang akan dikerjakan.

–0–

Peri di Padang Express

koran cabiak Padek

koran cabiak Padek

Yang masuak koran iko bukanlah Peri Ferdinal, tapi Ferry Fauzan. Meskipun Ferry bukanlah anggota Ketnap95 tapi bagi kami Ferry Minyak atau Ferry Kios (panggilan akrabnyo) ndak asing lai.

Ferry Kios ko tomasuak yang sangat dokek jo anak Pisik karno inyo memang kawan den dari sekolah TK sampai kuliah, dan Ferry ko juga pernah punyo hubungan khusus jo salah satu Ketnap95grils he he..

Berikut SMS nyo ka den memberitahu bahwa inyo masuak koran :

” d e l e t e “

Wah, hampia 2 bulan sejak Wira manulih ubi bakar. Sejak itu blog Pisik 95 sunyi senyap ndak cuma blog, milispun sunyi pulo. Ya biasolah kesibukan krojo, awakpun ndak sompat posting-posting ka blog iko lai.  Tapi dari kunjungan blog nampak2nyo banyak juo nan mancoliak blog iko, entah itu nyasar lewat search engine ataupun memang sangajo bukak. Contohnyo baru2 ko ado adiak kelas dari kelas IPA 1tamatan tahun 2002 nan maisi buku tamu, wah tarimokasih ateh kunjungannyo. Adiak kelas ko minta izin untuak mamasuakan blog Pisik95 ka Blogroll nyo, dan katiko awak mampir ka situ tanyato link Blog Pisik95 lah tapampang :) Abis InsyaAllah awak pasang pulo link anak2 IPA 2002 tu di blog iko. Tontu ndak ado masalah, yo bitu kan kawan2 lainnyo? :)

Sampai kini awak baru tau ado blog ateh namo kelas dari SMA Limbonang, tolong agiah tau kalau ado nan lain. Awak pikia rancak juo kalau masiang2 kelas mambuek website atau blog masing2. Mudah-mudahan iko jadi jalan untuak mambuek sesuatu nan lobiah godang lai ka mukonyo sahinggo bisa dimafaatkan untuak banyak hal. Ya minimal silaturahmi tontunyo.

Itu ajo dulu untuak sekedar maisi kosongnyo blog 2 bulan terakhir. Ditunggu komen dan posting dari kawan2 lainnyo. Terutamo Inal nan lah bajonji akan posting di siko he…he..he…he….

Salam

 

Yudhath

 

 

 

 

 

Ubi Bakar

Tersebutlah sebuah kisah di suatu desa yang tentram dan damai lahirlah seorang anak laki-laki kecil mungil yang berkulit butih bersih, Peri Ferdinal namanya. Satu bulan setelah Peri Ferdinal lahir, di desa yang masih bertetanggaan dengan desa tersebut, lahir pula seorang anak laki-laki kurus karena kekurangan gizi, yaitu aku sendiri.

Desa tempat Peri kecil lahir adalah desa yang sangat indah karena desa tersebut dikelilingi oleh perbukitan pada sisi Barat, Utara & Timur serta dibatasi oleh sebuah aliran sungai disisi Selatan yang airnya bersih dan bening yaitu Batang Sinamar. Ditengah-tengah desa tersebut juga mengalir sungai yang lebih kecil yang dikenal sebagai Batang Sauik sesuai dengan nama desa tersebut. Luas desa Sauik mungkin hanya 1/10 dari luas desaku, Kampuang Dalam.

Kalu kita berdiri di punggung bukit sebelah Timur yaitu punggung bukit Andiang dan menghadap ke Barat maka kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Diantara bukit Sauik di Barat yang runcing seperti segitiga sama sisi dan bukit Andiang yang melingkar dari Timur sampai ke Utara kita akan melihat air jatuh dari ketinggian lebih kurang 40 meter terhempas pada batu batu besar yang terdapat di dasar tebing. Dari air terjun tersebutlah batang Sauik memulai perjalanan melintasi desa berkelok-kelok yang akhirnya bermuara pada Batang Sinamar di perbatasan desa.

Dari air batang Sauik tersebut masyarakat Sauik menggantungkan hasil sawah mereka yang hampir menutupi seluruh wilayah desa bahkan dibuat berjenjang-jenjang menjalar sampai ke kaki bukit seperti sawah di Ubud Bali. Rumah penduduk tersebar disudut-sudut desa yang berkelompok-kelompok dua sampai lima rumah yang setiap kelompok rumah mempunyai jalan ke kantor desa dan mesjid sebagai pusat desa tepat di jantung desa.

Pemandangan akan semakin indah pada pagi hari disaat padi mulai menguning karena seluruh desa dan air terjun akan disinari Matahari secara utuh, dan saat masyarakat mulai memasang urang-urang dan bendera dari kain-kain perca serta kantong asoi yang dikatkan pada tali sekeliling sawah digoyang-goyang sambil bersorak-sorak mengusir ratusan burung pipik pinang yang memakan padi bergerombolan pindah-pindah dari tumpak yang satu ke tumpak yang lainnya.

Jalan masuk utama ke Sauik adalah sebuah jembatan gantung layaknya golden gate namun hanya terbuat dari batang pohon kelapa, kawat baja & bambu yang hanya mampu melayani sepeda motor, kereta unto, dan garabak kayu , tidak cukup lebar dan kuat melayani mobil meskipun hanya Suzuki Karimun, Hyundai Atoz ataupun Daihatsu Ceria. Jembatan barayun ini semakin mempercantik desa Sauik dan seolah olah memberi isyarat betapa bersahajanya kehidupan masyarakat disana.

Di desa yang indah, tentram dan damai inilah Peri kecil tumbuh bahagia bersama Opak & Omak dan seorang Uni . Sebenarnaya kelurga Peri adalah keluarga besar namun yang “tersisa” di rumah hanyalah mereka berempat saja, karena Uda & Uni yang lain sebagian sudah berkeluarga dan merantau tersebar keberbagai penjuru negeri.

Sampailah pada suatu masa dimana si Peri kacil sudah waktunya untuk masuk sekolah.

“Oi, jagolah lai, iyo ko sokola juo ang ndak ?”

kata Omak membangunkan anaknya yang tersayang yang masih tertidur lelap karena penat main sikoja kemaren bersama teman sebaya di pembatang sawah.

Namun karena minat Peri kecil untuk sekolah sangat besar, ia langsung duduk dari tempat tidur, dengan sedikit masih agak pusing, Peri kecil melirik ke kursi disamping tempat tidur yang diatasnya terlipat dengan rapi pakaian seragam sekolah merah putih baru lengkap dengan topi dan dasinya. Melihat seragam sekolah yang baru dibeli hari Kamis kemaren di pasar Pokan Komih tersebut Peri kecil sudah tidak sabar untuk segera masuk sekolah. Sambil menggosok-gosok matanya Peri berjalan sempoyongan mengambil handuk untuk pergi mandi ke luak dibawah tobiang.

Setelah mandi dan sarapan pagi, Peri kecil tampak sangat rapi dengan seragam barunya , rambutnya yang kasar-kasar bagaikan ijuak dari batang Onou tersebut seperti dipaksakan disisir sigo topi meskipun sudah dibantu dengan minyak rambut merek Tancho punya Opak, tetap saja rambut Peri kecil masih togak-togak. Peri kecil tidak peduli dengan rambutnya itu, yang terbayang baginya hanyalah segera berkumpul dengan teman-teman sebaya di sekolah SD Impres Saut yang baru saja selesai dibangun.

SD Impress 73 tersebut adalah buah jerih payah masyarakat Sauik yang sudah sekian kali Pemilu sangat setia memenagkan partai berlambang beringin tersebut dengan cara meyakinkan. Menang mutlak hampir 100 % berturut-turut selama tiga kali pemilu terakhir.

Sebelum SD Impres dibangun di desa Sauik, masyarakat Sauik sebagian besar menyekolahkan anaknya di sekolah dasar SD no 3 Limbanang yang berada di desa ku yang berjarak kira-kira 3 km, tapi sekarang dengan penuh suka cita masyarakat Sauik mengantarkan anak-anak mereka dengan bangga ke sekolah SD Impres di desa mereka sendiri.

Tidak mau ketinggalan dari para orang tua yang lain, pada pagi hari Senin awal permulaan sekolah dibuka tersebut, Omak Peri juga mengantar Peri kecil mendaftar dengan perasaan senang dan bahagia. Sang Omak sangat berharap putra bungsunya ini juga bisa sukses dalam pendidikan seperti kakak-kakanya yang semuanya memang berprestasi bagus.

Setiap anak yang akan mendaftar sebagi murid pertama di SD Inpress ini terlihat sangat sumringah senyum dan tawa tak lepas mereka pertontonkan. Kebanyakan mereka diantar oleh Omak mereka sendiri, tapi ada juga yang di antar Etek atau Uni tidak ada yang diantar oleh Opak mereka.

Gedung sekolah tersebut dibangun dikaki bukit Sauik sehingga untuk mencapi gedung sekolah harus melalui perjuangan fisik dengan mendaki jalan tanah menanjak kemiringan hampir 45 derjat sepanjang sekitar 100 m.

Sesampainya di sekolah, sang Omak yang masih mengatur nafasnya sehabis mendaki tadi langsung menemui kepala sekolah untuk mendaftarkan Peri kecil sebagai murid baru.

”O Ni, iko anak uni ciek lai lah nak sikolah pulo nyo nyeh”

Kebetulan sang kepala sekolah pertama di SD Impres 73 tersebut adalah guru senior yang sudah dikenal lama oleh Omak Peri dan umur mereka berdua sebenarnya tidak beda jauh.

”Ha ?, soketek iko lah ko sikolah pulo ?”

Ibu kepala sekolah sedikit agak ragu untuk menirima Peri kecil sebagai murid baru karena melihat body Peri kecil yang memang sangat kecil sekali. Begitu kecilnya Peri kecil, teman-teman sebayanya sering memanggilnya dengan nama Newan.

Newan adalah nama seorang juru foto keliling di kecamatan kami yang memang bertubuh kecil tidak seperti tubuh orang dewasa normalnya. Nama Newan sangat populer di tengah masyarakat karena profesinya tersebut, sebut saja jika mau membuat KTP, anak mau masuk sekolah atau gadih jo bujang yang mau kawin pasti memanggil Newan untuk dibuatkan pas foto hitam putih ukuran 2×3 untuk diserahkan ke kantor KUA.

”Badannyo yo ketek dari dulu lai Ni, tapi umuanyo kan lah cukuik ntuak skolah SD.”

Omak peri mulai meyakinkan kepala sekolah bahwa anaknya ini sudah pantas untuk sekolah, sedangkan Peri kecil hanya tersenyum kecut dan menundukan pandangannya melihat sepatu barunya yang lapang sambil memainkan jari-jarinya dibelakang punggung.

”Cubo jangkau tolingo kida jo tagan suak !”, kata bu kepala sekolah.

Sebenarnya cara test umur seperti ini adalah cara orang-orang dahulu (zaman Belanda) yang tidak tahu tanggal pasti lahirnya. Dengan cara memegang / menjangkau daun telinga kiri dengan tangan kanan melalui atas kepala seorang anak dinyatakan sudah cukup umur dan layak masuk sekolah atau belum.

Ternyata Peri kecil memang belum bisa menjangkau telinganya baik yang kiri dengan tangan kanan atau telinga kanan dengan tangan kiri. Peri kecil mulai cemas dan terus mencoba, tapi memang tangannya yang pendek belum bisa dipaksakan untuk menjangkau telinga.

”Baa caronyo ko, taun bisuak saa lah masuak sikolah di ?” kata bu kepala sekolah tersenyum melihat Peri kecil.

”Tapi umuanyo kan lah cukuik tu Ni, kan samo laianyo jo Wira anak Uni non paliang ketek pulo.”

Jawab Omak membela anaknya yang mulai cemas kalau tidak bisa masuk sekolah tahun ini sama dengan teman-teman yang lain.

Ibu kepala sekolah yang memang kebetulan adalah Ibuku sendiri sebenarnya sudah tahu, dan sebenarnya lagi Ibuku sendiri sangat mengharapkan Peri mau bergabung di SD Impres tersebut sebagai murid pertamanya karena seperti yang saya ceritakan tadi bahwa keluarga Peri adalah keluarga dengan trade record pendidikan yang sangat bagus. Jauh-jauh hari ketika Ibuku diminta untuk pindah menjabat kepala sekolah dari SD no 3 Limbanang di desaku ke SD Impres 73 di Sauik, Ibuku sudah ”mengincar” Peri kecil untuk menjadi muridnya, jangan sampai Peri kecil sekolah di SD 3 Limbanang atau SD Teladan di Suliki.

Namun Ibuku sang kepala sekolah hanya ingin tahu seberapa pintar Peri kecil mugil ini.

”Kalau bitu, Ibuk tes lah dulu agak ciek dih ?”
”Kalau bisa monjawab pertanyaan Ibuk berarti lulus masuak sikolah !”

Peri kecil yang tadi layuh sekarang mulai semangat lagi, dengan sangat serius Peri Kecil mendengarkan pertanyaan dari kepala sekolah

”Pertanyaanyo dongeaan elok-elok muah”
”Kambiang ado duo, bora banyak kakinyo ??”

Hanya berfikir satu detik Peri kecil langsung menjawab dengan pasti

”8”

Dalam hati Peri kecil berkata ”ha, pertanyaan gampang” mungkin keseharian Peri kecil memang sudah akrab dengan ternak Kambiang, Bantiang, Itiak dll..

Dan kepala sekolah pun menyatakan Peri kecil lulus test masuk sekolah.

Sepertinya hari itu adalah hari yang sangat istimewa bagi Peri dan teman-teman dan juga masyarakat Sauik pada umumnya. Karena selama enam bulan terakhir sejak gedung skolah mulai dibangun Peri kecil dan teman-teman sudah ramai membicarakan dan membayangkan mereka akan bersekolah disana sebagai murid pertama, ada juga temannya yang kebetulan tidak naik kelas di SD 3 Limbananag lansung masuk lagi dan bahkan ada yang sudah dinyatakan naik kelas dua tapi tetap masuk lagi sebagai murid kelas satu asal bisa sekolah di desa sendiri besama teman-teman yang lain.

Pada tahun itu tercata murid baru SD Impres 73 sebanyak 17 orang, suatu angka yang cukub besar mengingat desa Sauik yang dihuni hanya beberapa puluh KK. Terbukti benar pada tahun-tahun selanjutnya jumlah murid baru seperti deret bagi dari 17 murid menjadi 10 murid, tahun selanjutnya 5 murid, selanjutnya 2,5 murid dan sekarang entah masih ada atau tidak aku tidak tahu pasti lagi.

Singkat cerita, Peri kecil sekolah di SD Impres 37 selalu menjadi juara kelas dan akupun sekolah di SD 3 Limbanang juga juara kelas. Sering kali kalau aku sudah merasa jenuh belajar dan merasa sudah pintar di rumah selalu diingatkan ibuku kalau muridnya yang bernama Peri lebih pintar dari aku, tentu saja maksudnya agar aku termotifasi lagi untuk belajar lebih giat. Contohnya Ibuku pernah mengatakan :

”Dek Peri saa lah apa kali-kali 9, dek ang olun juo lai ?”
”Peri lah apa bacaan jenazah, dek ang bacaan tahyat akhir tobalik-baliak juo ru”
”Peri lah bisa moncari akar bilangan ang olun juo mongoroti”

Meskipun kami (Aku dan Peri) tidak satu sekolah dan juga tidak satu tempat bermain namun kami sudah saling mengenal dengan perantara Ibuku atau kakakku yang juga seangkatan dengan kakaknya Peri. Ibuku juga pernah mengundang Peri dan murdinya yang lain untuk belajar bersama dirumahku.

Disaat masuk SMP kami mulai ”berkompetisi” didalam kelas, karena kebetulan kami terkumpul didalam kelas yang sama yaitu kelas I-2 SMP Limbanang, awalnya aku memang peringkat 2 dikelas namuan akhirnya naik menjadi peringkat 3. Peri sendiri dari peringkat 3 menjadi nomor 2, lalu juaranya ??

Juaranya adalah teman putri kami yang sangat rajin dan pintar tentunya, dia adalah Meriwati dari Banjaloweh yang disaat SMA ternyata kami berkumpul lagi di kelas yang sama yaitu jurusan Fisika SMA 2 Payaumbuh.

Semasa sekolah di SMA sangat banyak kisah menarik yang kami jalani bersama, tidak hanya antara kami berdua tapi juga dengan semua teman-teman yang berjumlah 24 orang.

Karena Kelas Fisika adalah kumpulan siswa-siswa yang kemampuannya diatas rata-rata semua, maka nilai kami tidaklah terlihat istimewa dibandingkan dengan teman yang lain. Atau mungkin juga saat itu kami tidak terlalu focus belajar karena sibuk mencari jatidiri layaknya anak yang baru gede. Aku sangat semangat ikut klub bola volly dikampungku, Peri pun sangat aktif di perkumpulan main koa didesanya.

Kali ini cerita masa SMA tidak kita kupas, kita melompat ke saat awal-awal kami kuliah. Saat-saat yang akan selalu kami kenang bagaimana serunya kami ”berkompetisi”.

Sadar dengan kondisi kami yang sudah tertinggal jauh dari teman-teman yang sudah mendapat undangan dari Universitas Andalas, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro dll. Maka kami, bukan hanya aku dan Peri saja tetapi juga Dedi Iswandi, Karma Yudha, Wenesdi, Afrinal dll yang dinyatakan tidak layak diundang perguruan tinggi mulai belajar dengan lebih giat lagi dan juga ikut bimbingan belajar untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi yang sangat sulit dan harus bersaing dengan ratusan ribu siswa lain dari seluruh Indonesia.

Alhamdulillah akhirnya aku diterima di Fakultas Teknik Universitas Andalas, Peri pun seperti tidak mau ketinggalan juga diterima di Universitas dan Fakultas yang sama tetapi dengan jurusan berbeda.

Karena kampus kami sama, kamipun tinggal di kos-kosan yang sama di kamar yang sama yaitu di Jl Pinang soro III no 23 Air Tawar Timur kota Padang. Rumah kos-kosan tersebut adalah rumah yang dikontrak oleh daRil bersama istri dan anaknya, tiga kamarnya di lantai atas di-koskan kepada kami, salah satunya juga ditempati teman kami Dedi Iswandi alias Memet alias Krudet bersama daNal.

Layaknya anak kos, kamipun juga mengatur jadwal piket menyapu, cuci piring, masak air dan menanak nasi, sedangkan  lauk pauk, sayur dan kerupuk urusan masing-masing. Yang mendapat jadwal piket harus menanak nasi dengan beras sendiri-sendiri, tidak masalah berasnya jenis apa dan berapa orang yang harus makan pada hari itu.

Pada suatu hari saat masih diawal-awal kuliah, yaitu hari Minggu dipenghujung bulan, tanggal dan bulannya aku tidak ingat. Pagi itu jam 9 kami sudah bangun dan langsung solat ”subuh”. Ternyata tinggal kami berdua di kos-kosan, yang lain sepertinya ada yang pulang kampung, ikut kegiatan, atau seperti Krudet yang sudah ”dinas” di tempat Fotocopy bos Asin.

Disaat matahari menanjak naik menghantam ubun-ubun siapa saja yang berjalan dimuka bumi terutama di jalanan kota Padang yang sangat terkenal panasnya, kami hanya tidur bermalas-malasan di lantai balkon depan kamar menikmati hari libur setelah enam hari dalam satu minggu selalu ”diteror” senior-senior karena masih harus menjalani proses ospek.

Saat itu tidak terpikir oleh kami untuk refreshing pergi nonton, main bilyard atau sekedar jalan-jalan ke mall karena dari tempat kos ke jalan besar untuk naik bis atau angkot harus ditempuh dengan jalan kaki hampir ½ kilo melawan teriknya matahari, bagi yang coba atau terpaksa harus berjalan pasti dibuat KO. Alasan kedua kami tidak ”keluar” saat itu adalah karena uang dikantong sudah sangat pas-pasan maklum sudah dipenghujung bulan. Mungkin sesungguhnya alasan ini yang paling tepat he he.

Setelah selesai mencuci pakaian 1 minggu, dan Peri telah menyelesaikan tugas piketnya hari itu kami langsung memulai ”kompetisi” main catur duduk lesehan dilantai balkon. Dalam hal main catur kemampuan kami juga berimbang, mungkin Peri sedikit lebih unggul dari aku, tapi hanya sedikit sekali perbedaanya kira-kira 50,1% berbanding 49,9%. Karena berimbang itulah makanya kami yang paling sering main di tempat kosan.

Terkadang Krudet juga coba menantang kami main, tapi untuk soal permainan ini kami bukanlah tandingan Krudet, kemampuan Krudet main catur hanya setingkat dengan Putra adiknya sendiri yang baru bisa membunuh raja yang sudah tinggal sendirian dengan dua buah benteng.

Partai pertama pada hari Minggu itu kami mulai.

Dengan pembukaan Inggris Raya Peri yang memegang bidak putih memulai permainan. Akupun dengan gaya khas jika memegang bidak hitam akan menggunakan pertahanan Sisilia yang sangat kokoh. Jika aku sudah main bertahan seperti itu biasanya Peri mulai frustasi. Akupun dengan sangat hati-hati mulai menyusun sebuah strategi penyerangan dengan sangat matang.

Karena sangat kokohnya pertahanan aku, Peripun tidak berani masuk menyerang karena bisa berakibat fatal, lebih banyak ia menunggu sambil mempesiapakan pertahanan juga. Setelah persiapan penyerangan aku anggap matang maka akupun keluar memulai penyerangan.

Dimulai dengan pergerakan kuda yang memakan bidak fital dipertahanan Peri aku membuka jalan untuk peluncur putih agar bisa masuk tepat dihadapan raja. Memang aku mengorbankan kuda ditukar hanya dengan satu bidak, tapi aku telah menempatkan sebuah perwira tepat dijantung pertahanan Peri yang disokong oleh mentri dan kuda yang satunya lagi.

Menerima serangan seporadis tersebut terlihat Peri mulai shock, ia berpikir sangat keras menghindari serangan tersebut. Setelah mencoba mengelak satu dua langkah akhirnya Peri menyerah mengaku kalah meskipun aku belum menuntaskan serangan. Kami berdua memang sudah tahu apa yang akan terjadi jika permainan diteruskan dengan kekuatan yang sudah tidak berimabang hanya akan membuang-buang waktu. Jika perbedaan kekuatan sudah lebih dari dua perwira maka sudah dapat dipastikan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Partai pertama yang hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam telah aku menangkan dengan cara yang meyakinkan.

Matahari diluar sana semakin menunjukkan kedigdayaannya, suhu udara semakin panas. Seringkali warga Pinang Sori membakar sampah yang menumpuk dilahan-lahan yang masih kosong saat cuaca panas tersebut dan asapnya pun semakin membuat udara tambah panas dan bau.

Kami berdua juga telah buka baju tidak tahan dengan cuaca tersebut dan juga menandakan pertandingan catur kami juga semakin panas.

Sekarang partai kedua dimulai.

Dengan modal kemenangan 1 – 0 ditangan aku mulai bermain lebih santai dan sedikit agresif. Didalam permainan catur bidak putih memang ditempatkan sebagai tim/kekuatan menyerang sedangkan bidak hitam diposisikan sebagai tim yang bertahan. Peri pun dengan cermat memperhatikan pertahanannya.

Karena begitu semangat dan percaya diri yang berlebihan dalam menyerang, akupun kurang memperhatikan pertahanan. Celah ini langsung dimanfaatkan oleh Peri, setelah melayani seranganku satu pukul dua pukul, dan seranganku mulai melemah Peri langsung memanfaatkan kesempatan kecil tersebut dengan membalas seranganku dengan serangan pula.

Aku yang tidak dalam posisi yang siap menerima serangan sedikit kaget. Pilihannya meneruskan serangan atau membenahi pertahanan. Jika seranganku diteruskan maka pertahananku semakin lemah, jika pertahanan yang aku benahi maka serangan akan gagal total dan harus mundur lagi memulai dari awal. Suatu pilihan yang sulit.

Karena sudah punya modal kemenangan 1-0 aku memilih alternatif pertama dengan meneruskan serangan. Kalau dalam pertempuran yang sesungguhnya bisa diumpamakan aku adalah panglima perang yang duduk gagah diatas kuda lengkap dengan pakaian kebesaran mengacungkan pedang sambil berteriak Seraaaang !!! maka bisa dibayangkan perang akan berkecamuk dan akan memakan korban yang sangat banyak, baik dipihak lawan maupun dari pihak kita sendiri.

Benar saja, Peri tidak terlalu mengindahkan serangan aku, tapi ia juga mengobarkan semangat menyerang. Saling memakan bidak dan perwira kami jalani dalam waktu yang singkat. Aku kehilangan 3 perwira yaitu satu benteng, satu kuda satu peluncur dan dua buah bidak, dari pihak Peri juga kehilangan 3 perwira yaitu dua benteng satu peluncur dan tiga bidak.

Setelah pertempuran yang sangat dasyat tersebut kami sama-sama mundur dulu untuk memperbaiki pertahanan masing-masing, suasana yang tadi sangat tegang kini mulai agak kendur dan kami sama-sama cari “angin” dulu.

Asap dari pembakaran sampah tetangga kadang-kadang tertiup angin ke arah kami, kami hanya bisa pasrah menerima kondisi cuaca panas, perihnya asap atau bau yang tidak mengenakkan tersebut. Tapi kali ini bau yang tidak enak tersebut kadang berganti dengan bau harum gurih seperti aroma pop corn.

”Ha, baa dek beda baunyo sekali ko”
kata Peri agak heran.

”Iyo yiah, agak orun stek”
jawabku santai sambil tetap serius memperhatikan papan catur

”Baun ubi panggang”
kata Peri semakin penasaran

”Iyo baun ubi panggang”
kataku lagi menimpali sambil memulai penyerangan lagi.

Karena papan catur mulai sepi dari bidak dan perwira sejak pertempuran tadi maka serangan semakin berfariasi, serangan bisa dilakukan dari berbagai penjuru. Permainan saling serang mulai kami jalani lagi.

Akhirnya Peri menempatkan mentrinya tepat dihadapan mentriku, maksudnya mengajak duel saling tukar/mengorbankan mentri masing-masing. Menghadapi posisi begitu uku mulai tidak enak dan gelisah, karena dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aku sedikit kesulitan melakukan penyerangan jika harus kehilangan mentri. Kelemahan aku ini sangat dipahami oleh Peri, bagi ia kehilangan mentri tidak terlalu masalah asal jangan kehilangan kedua kudanya.

Pilihan ini sangat sulit, namun seperti biasa aku selalu menyerah untuk tidak mau mengorbankan mentriku. Bagi Peri sendiri tidak masalah mentrinya diganti dengan satu kuda dan satu benteng punyaku.

Sudah hampir dua jam kami menjalani partai kedua ini, namun pertandingan masih berjalan seru. Bau aroma ubi bakar kembali tercium semakin keras.

”Ha, sia pulo manggang ubi siang-siang ko”
kata peri semakin penasaran.

”Iyo, smakin kore baunnyo, ndak tau nyo awak litak siang-siang ko”
Jawab aku lagi yang mulai terdesak.

Sekarang kondisi sudah berbalik, aku dalam kondisi mulai tertekan Peri mulai santai. Peri yakin kali ini ia akan menang. Tidak berlebihan memang, karena dari pengalaman sebelum-sebelumnya jika sudah main barabih bulu seperti itu ia lebih unggul dari aku. Akupun menyadarinya dan kali ini aku tidak mau kalah untuk kesekian kalinya dalam kondisi yang sama. Aku terus berusaha bertahan sambil mencuri-curi serangan sekali-sekali.

Peri melayaniku dengan sabar, baginya skor 1-1 hanya menuggu waktu saja. Sambil bersandar dipagar balkon dan menggoyang-goyangkan betisnya ia terlihat santai sekali. Waktu itu Peri mengenakkan celana pendek sambil buka baju. Sebenarnya bukan celana pendek yang ia kenakkan tetapi celana levis yang sudah pudar dipotong pendek setinggi lutut kaki.

Betisnya yang besar dan berbulu lebat itu seolah olah menerorku supaya cepat menyerah. Atau sesekali Peri coba mempengaruhi aku dengan kata-kata sindiran

”ndo lai lah tosopik Kacang cako”
katanya sambil melengah-lengah.

Namun aku tidak mau menyerah, coba tidak terpengaruh dengan kata-katanya. Dengan tidur terlungkup tangan didada kepala diangkat aku semakin serius memperhatikan papan catur. Sekarang Peri mulai memainkan rokok Gudang Garam GP yang dari tadi diselipkan ditelinganya, rokok tersebut dipukul pukul ke lutut atau dihisap-hisap tampa menyalakannya seolah olah mengisyaratkan kalau aku sudah menyerah ia kan segera menghisap rokok tersebut untuk merayakan kemenangannya.

Hampir tiga jam lebih kami memainkan partai kedua ini, Peripun melayaniku dengan sabar, sampai akhirnya aku benar-benar sudah terdesak dan menyerah. Sambil membalikkan badanku langsung tidur terlentang dan mengibas-ngibaskan kaosku karena panas.

”yolah, nyorah, 1-1 skor ru”
Kataku sambil menguap.

”Ha ha, koditoruikan ciek lai baa ??”
Kata Peri merasa menang dan langsung menantangku untuk memlanjutkan partai ke tiga.

Benar saja seperti yang saya prediksi, Peri langsung menyalakan rokok Gudang Garam merayakan kemenangannya. Terlihat jelas Peri menikmati hisapan pertamanya yang dihirup dalam-dalam.

Tapi… belum sempat Peri menghebuskan asap rokok dari hisapan pertama tersebut tiba-tiba dari arah dapur lantai bawah terdengar suara ni Mi istrinya daRil yang baru pulang dari pengajian berteriak sangat lantang sekali.

”PERIIII !!,”
”PERI BATANAK YOOO ???????”

Peri langsung terperanjat kaget seperti baru saja dihardik oleh senior angkatan 90. Seperti dikejar anjing gila Peri berlari kebawah menuju dapur. Dapur kami memang sama-sama dilantai dasar bersebelahan dengan dapurnya ni Mi.

Kami baru sadar bahwa aroma ubi bakar yang tercium saat main tadi adalah bau nasi hangus yang ditanak oleh Peri 4 jam yang lalu sebelum kami memulai partai pertama.

Aku hanya tertawa geli mendengan Peri bercirotet mengeluh didapur menjawab pertanyaan ni Mi.

”Lah anguih yo ?”
Tanya ni Mi.

”Iyo, lah lupo saa awak ni”
Jawab Peri.

”Lah bara lamo tu, kareh bana baunyo ?”
Tanya ni Mi lagi.

”dari jam 10 pagi tadi lai ni”
Jawab Peri senyum-senyum malu.

Peri berjalan lesu menaiki tangga sambil menenteng periuk nasi yang masih panas. Periuk besi dengan tangkai kawat itu dipegang dengan singlet bekas merek Swan no 36 yang sudah berwarna hitam sama dengan “ekor” periuk itu.

Sambil garuk-garuk kepala dengan raut wajah hampir mau menangis Peri menyodorkan periuk tersebut ke arah aku. Aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku, sambil duduk diatas kursi rotan reot di ruangan tengah aku coba bertanya sambil tertawa tentunya.

”Baa, lah anguih ??”
Tanyaku.

”Ndo lai, lah jadi korak kosadonyo”
Jawab Peri mulai memaksakan senyum.

Lazimnya orang menanak nasi, bagian yang menjadi kerak biasanya hanyalah lapisan paling bawah setebal ½ – 1 cm. Tapi kali ini Peri menanak nasi dengan kerak setebal 20 cm. Tidak ada lagi terlihat nasi berwarna putih dalam periuk itu, semuanya sudah berwarna hitam.

Akhirnya kami berdua menertawakan diri kami sendiri yang tidak pernah sadar aroma ubi bakar tadi berasal dari dapur kami sendiri.

Bagi Peri, hal ini merupakan bencana yang besar, kelihatannya memang hanya spele, tapi mengingat beras yang ditanak tadi adalah stok terakhir, berarti ia harus beli beras lagi, harus beli minyak tanah lagi. Sedangkan uang disaku benar-benar sudah tipis.

Kiriman uang dari uni dari jakarta baru akan ditransfer tanggal 1 bulan depan yang masih beberapa hari lagi. Mau mengambil uang melalui ATM juga tidak bisa lagi, karena tabungan yang tersisa tinggal Rp 17.000,- sedangkan pecahan terkecil di ATM adalah Rp. 20.000,- mau mengambil lewat teller ke bank juga malu.

Mau tidak mau untuk beli beras dan minyak tanah harus diambil dari anggaran Gudang Garam GP. Tidak bisa merokok sesudah makan merupakan bencana bagi seorang perokok.

Aku sendiri tidak mau tahu dengan ”penderitaan” Peri saat itu, aku hanya terus tertawa senang seolah-olah skor main catur yang masih 1-1 tadi telah berubah menjadi 2-1.

_________________________________________Tamat________________________________

Pada hari ini, Kamis 24 April 2008 saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Bapak Peri Ferdinal. Semoga sehat, sukses dan bahagia selalu.

Wasalam, Wira/Kacang

Emil Nikah

Ada telpon dari Emil hari Sabtu lalu sekitar jam 15:00, dia mengundang datang ke acara pernikahannya tanggal 1 Mei mendatang di daerah Pondok Kopi katanya.

Agak surprise juga si Emil telpon karena terakhir bertemu mungkin 2 tahun yang lalu, waktu itu kebetulan ketemu di Plaza Semanggi si Emil dandananya sangat “gaul” ternyata tampilannya itu tidak lepas dari profesinya yang bekerja di oulet pakaian distro.

O ya, ada dua Emil yang dekat dengan anak-anak pisisk95, pertama Emil Tanjuang Jati dan kedua Emil Kampuang Dalam, dua-duanya dekat dengan kami anak pisik95 karena mereka sempat “dekat” dengan cewek-cewek pisik 95 :) . Nah yang mengundang kali ini adalah si Emil Kampuang Dalam.

“Tolong ajak nan lain Dath” undang Emil waktu itu.

“InsyaAllah” jawab saya.

Untuk kawan-kawan di sekitaran Jakarta kalau bisa datang bolehlah kita janjian untuk datang.

Salam

Yudhath

Kutbah Jumat 18 April

 

Wah, seminggu telah berlalu belum ada lagi posting baru dari teman-teman lainnya diblog ini, sambil menunggu posting-posting mereka saya isi posting kali ini soal kutbah Jumat 18 April.

 

Seperti  minggu lalu Jumat ini saya sholat Jumat di Mesjid GKBI. Inti kutbah kali ini soal pentingnya menjaga hati nabi Muhammad, menurut ustad jika kita mengaku sebagai ummat beliu maka jangan sampai perbuatan kita membuat murka Allah serta menyakiti hati nabi. Caranya dengan selalu ikut Al-Quran dan Hadis.

 

Namanya inti kuthbah jadi pendek saja. :)

Khotbah Jumat 11 April

Sholat Jumat hari ini masih di Mesjid GKBI, setiap sholat Jumat mesjid yang berada di lantai 6 gedung kantor tersebut penuh dijejali sampai di depan lift, kalau kita datang ketika khotbah telah dimulai pasti sulit mendapatkan tempat untuk sholat, paling kebagian sholat di tangga darurat dan konsekwensinya tidak bisa mendengarkan khotbah tapi ada saja beberapa orang yang sengaja mencari tempat sholat di tangga darurat, entah kenapa.

Kalau dipikir-pikir manajemen gedung cukup perhatian soal tempat ibadah dengan merelakan ruangan kantor ukuran 15 x 15 meter tersebut menjadi mesjid, coba kalau disewakan, lumayan pasti harganya.

Sang ustad kali ini menyampaikan khotbah kilatnya, dia hanya menyitir sebuah hadist yang menyatakan bahayanya memakan sesuatu yang haram mulai dari doa tidak didengar Tuhan sampai azab Tuhan yang maha berat, dia mengingatkan juga bahwa kadang begitu sedikit perbedaan sesuatu yang haram dengan yang halal. Ada beberapa hal lain yang sempat disampaikan sehubungan dengan halal haram, tapi karena menurut saya tidak begitu banyak hal baru setidaknya menurut apa yang saya dengar maka khotbah kali ini berlalu begitu saja, tiba-tiba muazin sudah berdiri untuk qomat.

O ya, yang tidak berubah pas khotbah Jumat kali ini adalah tetap saja banyak yang tertidur ketika khotbah berlangsung.

Demikian laporan khotbah Jumat kali ini.

Salam

Yudhath

Older Posts »